Bye-bye 2020! Ini Rapor 4 BUMN Konstruksi, Ada yang Cuan 200%

Bye-bye 2020! Ini Rapor 4 BUMN Konstruksi, Ada yang Cuan 200%

 


Jakarta, khabarberita.com | Tahun 2020 segera berlalu. Perdagangan saham di Rabu ini (30/12) menjadi perdagangan saham terakhir tahun 2020 di Bursa Efek Indonesia (BEI), dan akan dibuka lagi pada Senin (4/1) tahun depan, tahun Kerbau dalam kalender China.

Berdasarkan data BEI, empat saham BUMN konstruksi yakni PT PP Tbk (PTPP), PT Waskita Karya Tbk (WSKT), PT Wijaya Karya Tbk (WIKA), dan PT Adhi Karya Tbk (ADHI) mencatatkan kinerja saham variatif kendati dari sisi year to date atau tahun berjalan mulai pulih.

Sementara dari sisi kinerja fundamental keuangan, rata-rata tertekan lantaran pandemi Covid-19 menghantam semua sendi-sendi perekonomian.

Saham

Mari kita bandingkan pergerakan harga saham empat emiten konstruksi BUMN ini. Selasa kemarin, harga saham PTPP ditutup naik 3,65% menjadi Rp 1.845/saham, saat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) babak belur 0,94% ke level 6.036,17.

Dalam sebulan terakhir saham PTPP naik 39.77%, 3 bulan meroket 120,96%, dan year to date (YTD) naik 16,40%.

Saham WSKT pun ditutup naik 6,07% di posisi Rp 1.485/saham. Sebulan naik 40,76%, 3 bulan melesat 168%, dan YTD stagnan.

Saham WIKA juga berhasil ditutup naik 0,50% di posisi Rp 2.020/saham. Sebulan sahamnya naik 27,44%, 3 bulan melesat 79% dan YTD naik 51,31%.

Adapun saham ADHI ditutup menguat 2,58% di level Rp 1.590/saham. Sebulan naik 42%, 3 bulan meroket 209, dan YTD naik 35,32%.

Kinerja

Sepanjang tahun ini hingga September 2020 (kuartal III), kinerja keuangan empat emiten konstruksi BUMN ini tertekan akibat dampak pandemi.

WSKT membukukan kerugian yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp 2,63 triliun per September 2020, berkebalikan dari periode yang sama tahun lalu laba Rp 1,15 triliun.

WIKA mencatatkan laba bersih alias laba yang dapat diatribusikan ke entitas induk sebesar Rp 50,19 miliar, anjlok 96,29% dari periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 1,35 triliun.

Laba bersih ADHI juga terkoreksi. Bahkan laba ADHI hanya sebesar Rp 15,38 miliar, turun 95,62% dari capaian di kuartal III-2019 yang tercatat Rp 351,86 miliar.

Adapun laba bersih PTPP mencapai Rp 26,37 miliar, turun hingga 94,92% yoy dari Rp 519,24 miliar di periode yang sama tahun lalu.

Kabar baiknya, Tim Riset CNBC Indonesia, menilai salah satu sentimen positif bagi saham konstruksi adalah kehadiran dana abadi (Sovereign Wealth Fund/SWF) yang didirikan oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang bernama Indonesia Investment Authority (INA) yang akan efektif beroperasi pada Januari 2020.

INA ini menjadi Lembaga Pengelola Investasi (LPI) yang akan mengelola dana investasi termasuk infrastruktur. Jokowi bahkan menegaskan sudah ada 5 negara yang sudah berminat untuk investasi di INA, termasuk Uni Emirat Arab, Jepang, dan AS.

Di sisi lain, Joshua Michael, Analis PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, dalam riset 7 Desember lalu, juga mengungkapkan ada beberapa sentimen positif bagi emiten konstruksi BUMN.

Dia menilai, anggaran infrastruktur negara di 2021 tetap menjadi katalisator pertumbuhan utama bagi sektor konstruksi.

"Kami tetap positif atas komitmen pemerintah dalam pembangunan infrastruktur di tahun 2021 guna menjaga daya beli masyarakat dan mendukung pertumbuhan ekonomi nasional di tengah pandemi Covid-19. Hal ini tercermin dari infrastruktur negara yang secara signifikan lebih tinggi yaitu Rp 414 triliun, 47% lebih tinggi dari outlook tahun 2020," katanya dalam riset, dikutip CNBC Indonesia.

"Menyusul realokasi anggaran Rp 45 triliun pada 2020 guna membiayai penanganan pandemi Covid-19, anggaran Kementerian PUPR pada 2021 melonjak 98% YoY. Dengan anggaran dua kali lipat dan inisiatif lelang dini, kami berharap Kemen PUPR terus mempercepat belanja pada 2021," jelasnya.

Sentimen berikutnya yakni penerbitan peraturan turunan dari UU Cipta Kerja Omnibus Law. "Menindaklanjuti Omnibus Law (UU No. 11/2020 tentang Cipta Kerja), pemerintah telah menerbitkan lima rancangan Peraturan Pemerintah turunan yang akan berdampak langsung pada sektor konstruksi, khususnya kontraktor BUMN," katanya.

Nah, salah satu yang menjadi perhatian dari PP (yang akhirnya diterbitkan Jokowi) yakni pendirian SWF, Indonesia Investment Authority.

Tiga aturan turunan yang akhirnya diteken Jokowi yakni Peraturan Pemerintah (PP) No. 73 Tahun 2020 tentang Modal Awal Lembaga Pengelola Investasi dan Peraturan Pemerintah No. 74 Tahun 2020 tentang Lembaga Pengelola Investasi (LPI), serta Keputusan Presiden Nomor 128/P Tahun 2020 tentang Pembentukan Panitia Seleksi Pemilihan Calon Anggota Dewan Pengawas LPI dari Unsur Profesional.

"Melalui pembentukan INA, kami mengharapkan kejelasan divestasi infrastruktur yang lebih jelas di masa mendatang, yang pada akhirnya akan menguntungkan kontraktor BUMN, khususnya WSKT dengan jumlah jalan tol yang beroperasi sangat banyak."

"Karena proyek-proyek yang ditunda tahun lalu akan dilanjutkan pada tahun 2021, kami memperkirakan kontrak baru, buku pesanan, pendapatan, dan laba bersih kontraktor BUMN akan mencapai titik terendah pada FY20 dan mulai pulih secara bertahap pada FY21, meskipun masih sedikit di bawah pra-COVID," katanya.

"Kami memproyeksikan agregat FY21 (dari 4 kontraktor BUMN besar, yaitu PTPP, WIKA, WSKT dan ADHI) kontrak baru dan buku pesanan untuk tumbuh masing-masing sebesar 20-25% YoY dan 5-10% YoY," jelasnya.

Mirae Asset juga memperkirakan pertumbuhan pendapatan agregat FY21 sebesar 25-30% dan laba bersih FY21 akan kembali ke wilayah positif bagi emiten-emiten konstruksi BUMN.

"Selama pandemi ini, kontraktor BUMN berinisiatif untuk mempercepat penagihan piutangnya. Hasilnya, profil umur piutang kontraktor BUMN terus ditingkatkan karena proporsi piutang lama (yaitu> 12 bulan) terus menurun sejak 2Q20."

Dia mengatakan, biaya utang kontraktor BUMN mungkin akan turun secara bertahap di tahun yang akan datang didukung oleh peringkat kredit yang lebih tinggi.

source

Load comments