8 Daftar Gejala Virus Corona Baru, Termasuk Cegukan dan Parosmia

8 Daftar Gejala Virus Corona Baru, Termasuk Cegukan dan Parosmia

 

Jakarta - khabarberita.comAdanya mutasi memunculkan berbagai gejala virus Corona baru

Jika sebelumnya gejala yang dikenal hanya demam dan sesak napas, kini berbagai keluhan sehari-hari seperti cegukan dan gangguan penciuman juga bisa jadi gejala.

Misteri di balik virus Corona COVID-19 jadi makin banyak yang perlu terungkap. Salah satunya bahwa sejumlah pasien yang mengidap penyakit tersebut bisa mengalami gejala virus Corona COVID-19 yang berbeda-beda.

Gejala virus Corona baru yang ditemukan adalah cegukan terus-menerus. Dikutip dari laman Express, beberapa studi menemukan bahwa cegukan secara terus-menerus mungkin mengindikasikan gejala COVID-19 yang langka dan tidak biasa.

Pada studi 2020 menemukan seorang pria yang berusia 64 tahun yang cegukan terus-menerus sebagai satu-satunya gejala baru virus Corona.

Orang yang diamati dalam studi tersebut mengunjungi klinik setelah mengalami cegukan selama 72 jam. Tes darah dan paru-paru menunjukkan adanya infeksi paru-paru dan jumlah sel darah putih yang rendah. Ia pun dinyatakan positif COVID-19.



Cegukan terus menerus merupakan salah satu gejala yang dialami pasien Corona selain batuk, demam, dan sesak napas.

Dikutip dari berbagai sumber, berikut sejumlah gejala virus Corona baru yang perlu diwaspadai.

1. Sakit mata

Gejala virus Corona baru yang dilaporkan belum lama ini adalah sakit mata. Sebuah studi dari Anglia Ruskin University (ARU), Inggris, menemukan sebanyak 18 persen pasien Corona mengalami fotofobia (sensitivitas cahaya) sebagai salah satu gejalanya.

Dari 83 responden, 81 persen melaporkan masalah mata dalam dua minggu setelah gejala COVID-19 lainnya muncul. Dari jumlah tersebut, 80 persen melaporkan masalah mata mereka berlangsung kurang dari dua minggu.



"Ini adalah studi pertama yang menyelidiki berbagai gejala mata yang mengindikasikan konjungtivitis dalam kaitannya dengan COVID-19, kerangka waktunya dalam kaitannya dengan gejala COVID-19 yang diketahui dan durasinya," jelas penulis utama Profesor Shahina Pardhan, Direktur Vision and Eye Research Institute di ARU.

2. Delirium

Delirium merupakan gejala mental yang membuat penderitanya mengalami kebingungan berat dengan kesadaran yang berkurang akibat terganggunya sistem saraf pusat. Gejala COVID-19 ini umumnya muncul pada kelompok lanjut usia (lansia).

"Delirium adalah keadaan kebingungan di mana seseorang merasa tidak terhubung dengan kenyataan, seolah sedang bermimpi," kata peneliti dari University of Catalonia, Javier Correa.

3. Kelelahan

Berdasarkan studi yang telah diterbitkan di JAMA (Journal of the American Medical Association), kelelahan merupakan salah satu gejala COVID-19 yang dapat bertahan lama setelah seseorang terinfeksi virus Corona.



Studi ini menemukan, sebanyak 53 persen pasien Corona mengalami kelelahan selama sekitar 60 hari setelah pertama kali mengalami gejala COVID-19.

4. Masalah pencernaan

Menurut studi, masalah pencernaan yang diakibatkan oleh infeksi virus Corona bisa berupa diare dan muntah-muntah. Umumnya, pasien Corona yang mengalami masalah pencernaan juga disertai dengan gejala COVID-19 lainnya.

Diketahui, hanya 4 persen orang yang didiagnosis positif COVID-19 karena muntah dan diare sebagai gejala tunggal tanpa gejala penyerta.

5. Ruam kulit

Dokter kulit dari DNI Skin Centre, Dr dr I Gusti Nyoman Darmaputra, SpKK(K), FINSDV, FAADV, mengatakan bahwa infeksi virus Corona bisa menyebabkan ruam kulit. Namun, ruam kulitnya cenderung bersifat ringan dan tidak berisiko fatal.

"Kemungkinan muncul ruam pada pasien COVID itu bervariasi risikonya sekitar 0,2-20 persen," jelas dr Darma.

6. Nyeri otot

Penelitian yang diterbitkan di the journal Annals of Clinical and Translational Neurology menemukan bahwa 44,8 persen relawan yang berpartisipasi mengalami nyeri otot akibat COVID-19.



Rasa nyeri ini mungkin disebabkan karena peradangan yang terjadi di dalam tubuh akibat infeksi virus Corona. Selain itu, para pasien Corona yang sudah sembuh juga bisa mengalami nyeri otot.

7. Kehilangan indra penciuman dan perasa

Kehilangan indra penciuman dan perasa merupakan salah satu gejala COVID-19 yang kerap kali dirasakan pasien Corona. Butuh waktu hingga berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan agar fungsi indra tersebut pulih kembali.

Beberapa pasien yang menderita gejala virus Corona baru ini seringkali membutuhkan perawatan dan terapi seperti pelatihan penciuman. Ini dilakukan untuk 'memperbaiki' otak agar secara akurat bisa mengenali rasa, bau, dan aroma yang tepat seperti sebelumnya.

8. Parosmia

Gejala virus Corona baru yang ditemukan adalah parosmia atau distorsi penciuman. Dikutip dari laman Healthline, parosmia merupakan suatu kondisi terganggunya indra penciuman.



Parosmia bisa menyebabkan penderitanya mengalami 'halusinasi penciuman'. Misalnya seperti bau yang harum mungkin akan tercium busuk.

Kondisi ini pun dialami oleh sejumlah pasien COVID-19. Seorang ahli bedah telinga dan tenggorokan (THT), Profesor Nirmal Kumar, mengatakan bahwa gejala COVID-19 yang satu ini sangatlah aneh dan unik. Ia menjelaskan, gejala parosmia yang dialami kedua pasiennya akibat COVID-19.

"Kami menyebutnya virus neurotropik. Artinya, virus ini mempengaruhi saraf di atap hidung, seperti gangguan pada sistem saraf Anda, dan saraf tidak berfungsi," lanjutnya.

source

Load comments