Pandemi Virus Nipah Sempat Landa Malaysia 22 Tahun Lalu

Pandemi Virus Nipah Sempat Landa Malaysia 22 Tahun Lalu

 

Jakarta, khabarberita.com -- Analisa seorang peneliti asal Thailand, Supaporn Wacharapluesadee mengenai sampel asal kemunculan virus Nipah dari spesies hewan, termasuk kelelawar memicu kekhawatiran, di tengah ancaman pandemi Covid-19 yang menghantui dunia.

Wacharapluesadee yang merupakan peneliti di Red Cross Emerging Infectious Diseas Health Science Centre memperingatkan jika virus Nipah bisa berpotensi menjadi pandemi berikutnya. Ancaman tersebut kian diperparah lantaran hingga kini tingkat kematian akibat virus Nipah tinggi dan belum ada obatnya.

"Ini sangat mengkhawatirkan karena belum ada obatnya dan tingkat kematian yang tinggi akibat virus ini," ucapnya.



Jauh sebelum muncul kekhawtiran menjadi ancaman baru, virus Nipah telah mewabah di Malaysia pada 1999. Nama virus ini berasal dari nama sebuah kampung di Negeri Jiran, Sungai Nipah, Ipoh, negara bagian Perak.

WHO dalam situsnya mengungkap infeksi virus Nipah sebagai penyakit zoonosis yang ditularkan ke manusia melalui hewan, dan juga dapat ditularkan melalui makanan yang terkontaminasi atau langsung dari orang ke orang.

"Virus ini juga dapat menyebabkan penyakit parah pada hewan seperti babi, yang bisa mengakibatkan kerugian ekonomi yang signifikan bagi peternak," tulis WHO.



Studi yang dilakukan oleh Lai-Meng Looi dan Kaw-Bing Chua dari University of Malaya mencatat wabah virus Nipah pertama menginfeksi Malaysia pada September 1998. Hingga kasus dinyatakan berakhir, tercatat setidaknya 265 orang terinfeksi dengan 105 kematian.

Infeksi virus Nipah awalnya dikaitkan dengan ensefalitis Jepang, sebuah upaya pengendalian dini yang justru tidak efektif mencegah penularan. Virus Nipah yangs emula hanya menginfeksi kampung Sungai Nipah justru menyebar hingga ke negara bagian lain di Malaysia dan Singapura yang secara geografis berdekatan.

Kai dan Kaw dalam studinya mengungkap kemungkinan penulaan awal virus Nipah (NiV) dari kelelawar ke babi pada akhir 1197 atau awal 1998 melalui kontaminasi sisa-sisa babi oleh ekskresi buah yang telah dimakan kelelawar. Baik Malaysia maupun Singapura saat itu tidak siap dengan kondisi kemunculan pandemi NiV secara tiba-tiba.



Sisa-sisa makanan terjadi lantaran kelelawar migrasi dari hutan ke kebun buah-buahan dan peternakan babi. Kondisi ini juga didorong oleh kegagalan proses pembuahan di hutan selama musim kekeringan dan kebakaran antropogenik yang terjadi di Indonesia pada 1997-1998.

Akibatnya, peternakan babi yang merupakan industri bernilai miliaran dolar di Malaysia hancur karena pandemi NiV. Wabah awalnya dikaitkan dengan Japanese ensefalitas (JE) karena 4 serum sampel dari 28 pasien di daerah wabah dinyatakan positig untuk IgM spesifik JE-yang kemudian dikonfirmasi oleh WHO sebagai penyakit tropis.

Riset yang telah dipublikasikan di The Malaysian Journal of Pathology pada Januari 2008 mengungkap jika virus Nipah pertama kali mewabah di Malaysia pada September 1998. Saat itu orang ang terinfeksi mengeluhkan demam tinggi dan keluhan pernapasan.



"Sebagai konsekuenskinya, dilakukan upaya pengendalian dini, termasuk fogging untuk mengusir nyamuk dan vaksinasi babi, kendati tidak efektif," tulis Kai dan Kaw dalam studinya.

Ipoh yang menjadi episentrum penyebaran virus Nipah melaporkan 15 orang meninggal, sembilan diantaranya dinyatakan positif terinfeksi NiV.

Selanjutnya infeksi serupa juga mewabah pada Februari 1999 ke daerah sekitar. Total 180 pasien dengan 89 kematian akibat virus Nipah di di Ipoh.



Virus Nipah yang mewabah hingga ke daerah lain di Malaysia sempat memicu kekhawatiran di skala nasional.

Selain di Malaysia dan Singapura, virus Nipah diketahu juga sempat merebak di Kerala, India hingga menewaskan setidaknya sembilan orang.

Dari sembilan korban tiga di antaranya positif terkena virus nipah, sedangkan enam lainnya masih dicurigai akibat virus. Sementara itu terdapat 25 orang yang terpaksa diopname karena memiliki gejala yang mengarah pada infeksi virus nipah.

src



Load comments