BI Beri Kode Potong Bunga Acuan, Bunga KPR-nya Tolong Dong...

BI Beri Kode Potong Bunga Acuan, Bunga KPR-nya Tolong Dong...



Jakarta, khabarberita.com - Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warijyo memberi petunjuk mengenai arah kebijakan moneter ke depan. 

Dalam Rapat Kerja dengan Komisi XI DPR, orang nomor satu di MH Thamrin itu menyiratkan kekecewaan terhadap kinerja perekonomian nasional.

Pada kuartal IV-2020, ekonomi Indonesia tumbuh -2,19% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (year-on-year/YoY). 

BI sempat memperkirakan Produk Domestik Bruto (PDB) Tanah Air bisa tumbuh positif pada kuartal pamungkas tahun lalu.

Sejujurnya ini di bawah ekspektasi. Memang arahnya ada perbaikan, tetapi tidak secepat yang kami perkirakan," tutur Perry, sebagaimana dikutip dari Reuters.

Oleh karena itu, Perry mengungkapkan bahwa bank sentral membuka peluang untuk menurunkan suku bunga acuan demi mendorong pertumbuhan ekonomi. 

Namun apakah ruang itu akan dimanfaatkan atau tidak, tergantung dinamika nilai tukar rupiah.

"Jika ditanya apakah kami punya ruang untuk menurunkan suku bunga lebih lanjut, kami punya ruang. 

Namun kami akan melihat berbagai kemungkinan, termasuk menjaga stabilitas khususnya stabilitas nilai tukar rupiah dan bagaimana kami bisa lebih efektif dalam membantu pemulihan ekonomi," jelas Perry.

Saat ini BI 7 Day Reverse Repo Rate ada di 3,75%. 

BI akan menggelar Rapat Dewan Gubernur (RDG) periode Februari 2021 pada pekan depan.

Pelaku pasar memperkirakan ada ada kemungkinan BI bakal menurunkan suku bunga acuan. 

menghasilkan angka 3,5% untuk suku bunga acuan. Artinya ada pemotongan 25 basis poin.

Institusi

BI 7 Day Reverse Repo Rate (%)

Bank Danamon

3.5

ING

3.75

CIMB Niaga

3.5

Citi

3.5

DBS

3.5

Mirae Asset

3.75

BNI Sekuritas

3.5

MEDIAN

3.5


Ilustrasi Pameran Properti

Radhika Rao, Ekonom DBS, menyatakan setidaknya ada tiga faktor yang mendukung penurunan tersebut. 


Pertama, seperti yang sudah disebut, adalah kinerja pertumbuhan ekonomi yang mengecewakan. 


Perlu upaya ekstra untuk mendorong pertumbuhan ekonomi agar bisa lebih kencang lagi, salah satunya adalah dengan menurunkan suku bunga.

Saat suku bunga rendah, maka pengusaha dan rumah tangga akan terangsang mengambil kredit agar bisa berekspansi. 

Ekspansi dunia usaha dan rumah tangga itu akan menjadi motor pertumbuhan ekonomi.

Faktor kedua adalah tekanan inflasi yang sangat minim. 

Pada Januari 2021, Badap Pusat Statistik (BPS) melaporkan terjadi inflasi sebesar 0,26% month-to-month/MtM dan 1,55% year-on-year/YoY. 

Melambat dibandingkan bulan sebelumnya yaitu 0,45% MtM dan 1,68% YoY.

Bahkan pada Februari 2021 sepertinya inflasi melambat lagi. 

Dalam Survei Pemantauan Harga (SPH) pekan I, BI memperkirakan inflasi bulan ini berada di 0,01% MtM dan 1,25% YoY.

Ketiga, nilai tukar rupiah saat ini relatif stabil bahkan cenderung menguat. 

Sejak awal 2021, rupiah masih menguat 0,14% di hadapan dolar Amerika Serikat (AS).

"Oleh karena itu, kami sampai pada perkiraan bahwa BI akan menurunkan suku bunga acuan sebesar 25 bps menjadi 3,5%. 

Ini dilakukan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi di tengah risiko kasus Covid-19 yang masih tinggi sehingga bisa mengganggu normalisasi ekonomi," papar Rao dalam risetnya.

Sementara Ekonom Citi Helmi Arman menggarisbawahi soal nilai tukar rupiah yang 'aman'. 

Rupiah memang kerap kali jadi alasan BI untuk tidak menurunkan suku bunga acuan.

"Saat ini arus modal mengalir deras. Ditambah lagi ada kebutuhan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi," sebut Helmi dalam risetnya.

Menguip catatan BI, investor asing melakukan beli bersih Rp 12,12 triliun selama 1-5 Februari 2021. 

Sejak awal tahun, nilai beli bersih investor asing mencapai Rp 30,22 triliun.

Memang kalau BI menurunkan bunga acuan apa dampaknya buat rakyat? Apakah rakyat bisa menikmatinya?

BI 7 Day Reverse Repo adalah fasilitas likuiditas jangka pendek buat perbankan dari BI. 

Tujuannya untuk mempengaruhi pembentukan bunga di Pasar Uang Antar Bank (PUAB) jangka pendek pula. 

Suku bunga jangka pendek ini kemudian membentuk suku bunga simpanan dan kemudian biaya dana di perbankan.

Jika biaya dana turun, maka diharapkan suku bunga kredit perbankan ikut turun. Sebenarnya bunga kredit perbankan sudah turun, tetapi lajunya belum secepat yang diharapkan.

Sepanjang 2020, BI sudah memangkas suku bunga acuan sebanyak 125 bps. Namun rata-rata suku bunga Kredit Modal Kerja (KMK) dalam periode yang sama cuma turun 93 bps. 

Sedangkan rata-rata suku bunga Kredit Investasi (KI) dan Kredit Konsumsi (KK) turun masng-masing 99 bps dan 46 bps.

Jika BI 7 Day Reverse Repo Rate turun lagi, maka diharapkan biaya dana perbankan bisa turun lebih cepat. 

Harapannya suku bunga kredit bisa turun lebih drastis lagi.

Penurunan suku bunga kredit akan sangat membantu rakyat. 

Misalnya, beban pembayaran Kredit Pemilikan Rumah (KPR) bakal lebih rendah.

Mengutip data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), rata-rata suku bunga KPR per November 2020 adalah 8,32%. 

Sejak awal 2020 bunga KPR turun 40 bps, tentu masih jauh dari harapan.

Ketika seseorang membeli rumah seharga Rp 500 juta dengan KPR berbunga 8,32% bertenor 25 tahun, maka dalam sebulan wajib menyetor Rp 3,96 juta. 

Kalau bunga KPR turun menjadi katakanlah 8%, maka cicilan berkurang menjadi Rp 3,86 juta. Tentu harapannya bunga bisa lebih turun dari itu sehingga beban pembayaran bulanan bisa turun.

Saat pembayaran cicilan berkurang, kita akan punya uang lebih banyak untuk dibelanjakan. 

Tambahan belanja ini akan menggerakkan ekonomi sehingga Indonesia bisa lebih cepat bebas dari resesi.

Src

Load comments