Bukan Kelelawar, Hewan Ini Asal Usul Corona Versi China

Bukan Kelelawar, Hewan Ini Asal Usul Corona Versi China


Jakarta,khabarberita.com - Otoritas kesehatan China mengatakan berulang kali bahwa Covid-19 yang berada di Wuhan kemungkinan berasal dari luar negara itu. 

Beijing bahkan menyebut, kepala babi dan makanan laut yang diimpor adalah penyebabnya.

Beberapa peneliti dan otoritas kesehatan dunia sebenarnya mempertanyakan tentang makanan beku sebagai rute penularan virus. 

Namun, untuk meyakinkan argumentasinya, China telah menangguhkan impor produk dan meluncurkan pemeriksaan, pengujian, serta desinfeksi pada kemasan dan kontainer sehingga menciptakan penundaan dan mengganggu mitra dagang.

Melansir South China Morning Post, beberapa ilmuwan China menyebut virus Sars-CoV-2 yang menyebabkan penyakit Covid-19, mungkin telah tiba di Pasar Grosir Makanan Laut Huanan di kota Wuhan (lokasi wabah pertama yang diketahui di dunia) melalui impor makanan beku atau yang disebut sebagai "transmisi cold-chain".

Teori itu bahkan ditampilkAn dalam konferensi pers di Wuhan awal pekan ini, saat tim internasional spesialis Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mempresentasikan temuan penyelidikan selama sebulan tentang asal-usul virus bersama pejabat China.

"Sars-CoV-2 dapat bertahan dalam kondisi yang ditemukan dalam makanan beku, kemasan dan produk rantai dingin," kata Liang Wannian, pejabat Komisi Kesehatan Nasional yang memimpin misi di sisi China, Sabtu (13/2/2021).

Liang juga menyarankan virus itu mungkin telah menyebabkan infeksi di luar negeri sebelum wabah di Wuhan tetapi mereka tidak diidentifikasi. Beijing telah berulang kali menekankan sepanjang tahun lalu bahwa hanya karena virus itu pertama kali terdeteksi di Wuhan, mungkin itu bukan tempat kemunculannya.

Sementara itu, Daniel Lucey, seorang spesialis penyakit menular di Georgetown University Medical Center di AS, mengatakan bahwa transmisi cold-chain sepertinya bukan penjelasan yang memungkinkan dan harus memerlukan studi perbandingan.

"Kenapa Wuhan dulu? Dari semua pasar makanan laut di China dan Asia dan di seluruh dunia, bagaimana kemasan rantai dingin akhirnya menyebabkan wabah pertama kali di Wuhan?," kata dia.

Dale Fisher, seorang dokter penyakit menular di National University of Singapore (NUS) mengatakan bahwa sangat "masuk akal" bagi tim WHO untuk mempertimbangkan teori tersebut.

"(Namun), teori cold-chain (transmisi) benar-benar muncul dengan gagasan bahwa ada wabah yang terjadi di pabrik pengolahan daging di negara lain. Tetapi sangat tidak mungkin ada penyebaran penyakit yang meluas terjadi sebelum Wuhan," kata Fisher.

Tim WHO di Wuhan mengatakan hipotesis lain yang lebih umum adalah kemungkinan besar virus itu masuk ke manusia melalui hewan perantara. Akan tetapi penelitian lebih lanjut tentang peran potensial produk cold chain sangat diperlukan.

"Teori lain menyebut bahwa virus itu bocor dari Institut Virologi Wuhan, yang melakukan penelitian terhadap virus corona, dan sangatlah tidak mungkin", kata tim tersebut.

Meski begitu, ketua tim WHO dan seorang ilmuwan keamanan pangan Peter Ben Embarek, mengatakan kemungkinan ada hubungan antara teori-teori tersebut.

"Akan menarik untuk ditelusuri jika hewan liar yang terinfeksi dan beku dapat membawa virus ke pasar Wuhan. Masih belum diketahui apakah manusia dapat terinfeksi dari virus yang selamat dari kondisi beku.Pasar Wuhan dikenal menjual hewan liar, baik yang hidup maupun yang dipotong," kata dia.

Foto: Daging Salmon

Otoritas China mulai mencurigai bahwa produk makanan beku dapat bertanggung jawab atas penyebaran Covid-19 setelah wabah di pasar makanan grosir Beijing pada bulan Juni.

Para penyelidik awalnya bingung, tetapi kemudian melaporkan ditemukannya kesamaan genetik antara wabah dan sisa-sisa virus yang ditemukan pada salmon yang diimpor oleh sebuah perusahaan yang menjualnya ke salah satu stan di pasar terkait dengan infeksi awal.

Leo Poon Lit-man, kepala divisi ilmu laboratorium di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hong Kong, setuju bahwa bukti terkait hal ini sangat minim. "Sangat sulit untuk menilai risiko hanya berdasarkan beberapa insiden," katanya.

Menyusul wabah Beijing, otoritas China mengaitkan beberapa infeksi di negara itu dengan makanan impor.

Pada November di Tianjin, kota pelabuhan di timur laut China, para pejabat menyimpulkan bahwa kepala babi dari Amerika Utara telah menginfeksi dua pekerja, setelah menemukan virus yang mirip secara genetik di tanah di mana kepala babi secara tidak sengaja terjatuh. CDC Tianjin tidak mengatakan apakah kepala itu sendiri dinyatakan positif terkena virus.

Ikan kod di pelabuhan lain, Qingdao, tempat para peneliti mengisolasi virus "hidup" dari kemasan, juga di antara produk yang dianalisis dan ditunjuk sebagai penyebab wabah.

"Semua bintang harus sejajar," kata ahli virologi makanan Lee-Ann Jaykus, seorang profesor terkenal William Neal Reynolds di North Carolina State University.

Leo Poon Lit-man, kepala divisi ilmu laboratorium di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hong Kong, setuju bahwa ada kekurangan bukti.  

Meski begitu, sekitar 124 produsen makanan rantai dingin di 21 negara telah menangguhkan ekspor ke China, secara sukarela atau tidak, kata Administrasi Umum Kepabeanan China pada bulan lalu.

"Pembatasan Covid-19 terbaru di China pada produk makanan impor tidak didasarkan pada sains dan mengancam akan mengganggu perdagangan," kata Departemen Pertanian AS pada November.

Pada hari Selasa, AS mengatakan tidak akan menerima temuan WHO di Wuhan tanpa verifikasi independen.  "China belum memberikan transparansi yang diperlukan", kata juru bicara Departemen Luar Negeri Ned Price.

Src

Load comments