Sejarah Kemang, Rumahnya Air yang Kini Langganan Banjir

Sejarah Kemang, Rumahnya Air yang Kini Langganan Banjir


Jakarta - Khabarberita.com | Kawasan Kemang, Jakarta Selatan, kini kerap menjadi langganan banjir saat hujan deras mengguyur. 

Sejarahnya, Kemang dulu merupakan salah satu daerah resapan di DKI Jakarta.

Sejarawan JJ Rizal mengungkap riwayat kawasan Kemang yang dulu identik dengan pepohohon yang hijau. Nama Kemang berasal dari nama pohon. Kemang juga disebut sebagai tempat yang berlembah.

"Karena menilik dari nama tempatnya kan itu nama pohon, pohon kemang (Mangifera Kemanga Caecea). Sejenis mangga. Tapi ada sumber yang menyebutkan itu kawasan yang berlembah-lembah. Basah, rumahnya air," kata JJ Rizal saat dihubungi, Senin (22/2/2021).



JJ Rizal menjelaskan bahwa Kemang dibangun berdasarkan masterplan di era Wali Kota Soediro yang menjabat pada 1953-1960. Masterplan ini menjadi rujukan Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin. Kemang, menjadi salah satu kawasan hijau untuk mengatasi banjir.

"Sebagai dataran yang rendah dan dekat kali, itu memang dalam masterplan tahun 1965 dan 1985. Masterplan ini mengadopsi masterplan yang dibuat Wali Kota Soediro. Masterplan yang dibuat sama Bang Ali ini mengacu kepada masterplan Wali Kota Soediro yang mengacu kepada aturan kolonial juga," tuturnya.

"Karena masalah banjir menetapkan kawasan di sekitar Tanjung West (Tanjung Barat) itu sebagai green belt atau sabuk hijau. Itu yang harus jadi kawasan hijau, kawasan resapan air," imbuhnya.

Namun, dia mengatakan saat ini masterplan itu telah berubah-ubah. "Rencana tata ruang masterplan itu berubah-ubah terus. Dari tata ruang ke tata uang," ungkapnya.

Berkaca dari sejarah Kemang tersebut, JJ Rizal mengajak pemerintah untuk mengevaluasi masalah ini.

Sebenarnya Kemang itu potret kecil dari masalah kita yang besar. Perlu ada evaluasi besar-besaran. Persoalan Jakarta itu saudara kembarnya air. Makanya penamaan tempatnya itu identik dengan air dan pohon. Makanya kita harus berbagi dengan tiga, air pohon dan orang," katanya.


Terpisah, Pakar Tata Kota Universitas Trisakti, Yayat Supriatna, menduga Kemang sering terjadi banjir karena peruntukannya berubah dari permukiman menjadi kawasan perdagangan dan jasa.

"Ngotak-ngatik Kemang itu kaya CLBK (cucian lama belum kering). Jadi gini, sejarahnya Kemang dulu tahun 70-an itu adalah kawasan permukiman sebetulnya, kemudian dengan ekspatriat asing otomatis kawasan itu mulai tumbuh kembang dengan kawasan perdagangan, jasa. Jadi kawasan itu mulai muncul kaya pusat perbelanjaan, kafe, resto," ujar Yayat saat dihubungi, Senin (22/2/2021).

Yayat mengatakan saat adanya revisi penyusunan tata ruang 2010-2030, hampir 70 persen pelanggaran ditemukan dalam pembangunan di kawasan Kemang. Pelanggaran itu kemudian diputihkan.

Sebelumnya, banjir yang melanda kawasan Kemang terjadi pada Sabtu hingga Minggu kemarin. Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menyebut genangan di sisi Jalan Sudirman dan Kemang disebabkan oleh luapan Kali Krukut.

"Jadi curah hujan yang terjadi di kawasan hulu Kali Krukut, yang melintang melintasi Jalan Jendral Sudirman, di hulunya terjadi curah hujan yang sangat tinggi. Tercatat 136 mm/hari. Kemudian lintas airnya melewati dua sungai, satu Kali Mampang dan dua Kali Krukut. Kedua aliran kali itu bertemu di belakang LIPI, lalu mengalir ke Sudirman. Jadi saat ini adalah dampak dari air kiriman dari kawasan tengah sekitar Depok," kata Anies dalam keterangan tertulis yang diunggah di situs PPID, Minggu (21/2).

"Biasanya, kalau hujannya di pegunungan (daerah Bogor) airnya akan lewat Kali Ciliwung. Tapi, kalau terjadinya hujan deras di kawasan tengah (sekitar Depok), maka lewat ke sungai aliran tengah, yakni Kali Krukut ini," imbuhnya

Src

Load comments