DomaiNesia

Kuliah Umum Airlangga di RSIS dan NUS Singapura Disambut Antusiasme Audiens

Kuliah Umum Airlangga di RSIS dan NUS Singapura Disambut Antusiasme Audiens

Khabarberita.com | Kuliah umum Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto di Rajaratnam School of International Studies (RSIS) dan National University of Singapore (NUS) disambut antusiasme audiens.


Airlangga menggelar kuliah umum di RSIS di Park Royal Collection Marina Bay pada Senin sore (29/8) dan diikuti sekitar 200 peserta yang berasal dari berbagai kalangan, termasuk kalangan akademisi, pemerintahan, pengamat, dan media massa.

Menko Airlangga memulai kuliah umum dengan mengungkapkan pengalaman Pemerintah Indonesia dalam menangani pandemi Covid-19 pada awal 2020.

Dikatakan Airlangga, saat itu tidak ada kebijakan yang dapat langsung diimplementasikan Pemerintah Indonesia karena belum pernah mengalami krisis kesehatan seperti pandemi Covid-19.

"Sehingga pemerintah benar-benar harus menciptakan kebijakan baru yang tepat untuk menghadapi Covid-19,” ujar Menko Airlangga.

Pemerintah lantas menerapkan kebijakan ‘gas dan rem’ untuk mengendalikan pandemi Covid-19 dengan tetap mempertahankan upaya pemulihan ekonomi. Reformasi struktural juga dilakukan sebagai pilar ketiga dalam kerangka strategi gas dan rem.

”Saya merupakan orang yang percaya bahwa periode krisis merupakan kesempatan yang tepat untuk melakukan reformasi struktural pada ekonomi domestik,” ujar Menko Airlangga.

Dari RSIS, Ketua Umum Partai Golkar ini kemudian memberikan kuliah umum di NUS di Shaw Foundation Alumni House Auditorium dan dihadiri President NUS Society, Edward Stanley Tay Wey Kok dan Direktur NUS, Bernard Toh.

Menko Airlangga juga menjadi narasumber tunggal dalam kuliah umum yang berlangsung selama hampir 2 jam tersebut.

Dalam kesempatan tersebut, Menko Airlangga mengakui perbedaan ketika memberikan kuliah umum di hadapan mahasiswa Indonesia dibandingkan ketika di hadapan mahasiswa asing, dalam hal ini Singapura.

Sesi kuliah umum kemudian dilanjutkan dengan sesi tanya jawab oleh peserta yang hadir seluruhnya secara luring di auditorium. Para peserta dalam ruangan berkapasitas 500 tersebut juga terlihat penuh antusias mengikuti kuliah umum hingga pukul 9 malam waktu setempat.

Salah satu pertanyaan mengundang cukup banyak perhatian dari audiens yakni mengenai kemungkinan kenaikan harga makanan kemasan mie instan produksi Indonesia akibat perang Ukraina dan Rusia.

 “Meski perang Ukraina dan Rusia yang telah berlangsung selama beberapa bulan terakhir turut mempengaruhi harga komoditas dan juga gandum, untuk harga mie instan tercatat masih relatif stabil,” tutur Menko Airlangga. (politik.rmol.id)

Load comments