DomaiNesia

Srikandi Golkar Ini Singgung Soal Ketahanan Pangan

Srikandi Golkar Ini Singgung Soal Ketahanan Pangan


Khabarberita.com | Srikandi Golkar Dina Hidayana mendorong pemerintah untuk lebih serius mengembalikan kejayaan agraris, dan menempatkan pangan sebagai sumbu atau soko guru pembangunan nasional.

Staf Ahli MPR RI ini mengatakan, isu pangan bukan lagi sekadar pemenuhan perut semata.

Dina menegaskan, pangan memiliki peran strategis dan fundamental dalam memperkokoh pertahanan negara.

"Pasca-Perang Dunia II, paradigma militeristik telah bergeser menjadi modern warfare bukan lagi perang tradisional yang mengandalkan alutsista semata. Kasus Rusia-Ukraina mempertegas bagaimana peran pangan digunakan sebagai senjata atau amunisi sekaligus nilai tawar strategis dalam memenangkan hegemoni atau aliansi," ujar Dina saat mengisi acara diskusi virtual bertajuk 'Optimisme Mencapai Swasembada Pangan', Rabu (24/8/22).

Dina menjelaskan, pengalaman sejarah perang di masa lalu dan jatuh bangunnya peradaban hingga rezim pemerintahan di masa kini, diperkuat dengan adanya krisis atau kelangkaan pangan.

Dina merasa sepakat dengan pendapat yang mengatakan, bahwa perang tidak semata-mata dapat dimenangkan dengan pangan, namun tidak ada perang yang mampu dimenangkan tanpa logistik pangan.

Oleh karena itu, Dina melihat urusan pangan bukan sekadar hidup mati bangsa, namun menyangkut harga diri dan bagian terpenting dalam pertahanan negara.

Sebagaimana amanah konstitusi yang mewajibkan negara mewujudkan Indonesia yang merdeka, berdaulat, adil dan makmur.

"Pangan harus menjadi prioritas, urutan pertama dan utama," tegas Dina.

Tak sampai disitu, Dina menuturkan, Indonesia merupakan satu-satunya negara yang beruntung berada di garis khatulistiwa dengan sumber daya nasional yang lengkap.

Mulai dari kekayaan alam melimpah, matahari yang bersinar sepanjang tahun, tanah subur, keragaman topografi, bahan baku hayati dan non hayati, SDM militan dan pekerja keras, dan berbagai keunggulan komparatif lainnya.

Selain itu, Indonesia memiliki lintas maritim, jalur perdagangan internasional yang juga perlu dioptimalkan dalam mendukung rantai pasok pangan nasional yang lebih efektif dan efisien.

"Sudah saatnya Indonesia menanggalkan ketergantungan pada asing di semua sektor, terkhusus untuk hal yang fundamental dan strategis ini, mengingat pangan merupakan kebutuhan mendasar individu," ungkap Dina.

Politikus Partai Golkar ini juga menyampaikan optimisme, bahwa Indonesia mampu menjadi pemimpin di dunia dengan menggunakan kekuatan inti sumber daya nasional, yaitu sektor agraris.

Sekalipun menurut data Indeks Ketahanan Pangan Global, peringkat Indonesia turun menjadi 69 dari semula 62 dari total 113 negara dan di Asia Tenggara, peringkat 6 kalah dibandingkan Filipina, Vietnam, Thailand, Malaysia.

"Singapura yang tidak memiliki lahan dan petani justru ranking 1. Ironi bagi negara yang pernah menjadi produsen pangan termasyhur di masa lampau. Bahkan Rusia dan Ukraina menunjukkan bargaining positionnya dan mempengaruhi keberpihakan negara lain dengan menggunakan isu pangan," tutup Dina.

Src
Load comments