DomaiNesia

Bamsoet : Pentingnya Bela Negara untuk Pertahankan Kedaulatan RI

Bamsoet : Pentingnya Bela Negara untuk Pertahankan Kedaulatan RI

Khabarberita.com | Ketua MPR RI Bambang Soesatyo menghadiri acara Sidang Terbuka Senat Universitas Kristen Indonesia, di Jakarta, Senin (5/9). 


Dalam kesempatan ini, Bamsoet membahas soal pentingnya bela negara bagi warga negara Indonesia.

Wakil Ketua Umum Partai Golkar ini menyampaikan para pendiri bangsa telah menempatkan bela negara pada posisi sentral dengan merumuskannya secara eksplisit dalam konstitusi. Dalam hal ini, tiap-tiap warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam upaya pembelaan negara.

Bamsoet lebih lanjut menyampaikan konsepsi bela negara memiliki pemaknaan yang luas. Makna ini meliputi tekad, sikap, tindakan setiap warga negara yang dilandasi oleh rasa cinta Tanah Air. Sikap ini juga didasari oleh kesadaran dan komitmen untuk berbakti pada negara dan kesediaan berkorban demi kepentingan negara, serta menjaga dan mempertahankan kedaulatan NKRI dari berbagai ancaman.

"Rumusan di atas setidaknya mengisyaratkan dua pesan penting. Pertama, bahwa upaya bela negara adalah tanggungjawab bersama segenap warga negara, tanpa kecuali. Kedua, bahwa bela negara memiliki dua dimensi implementasi, yakni sebagai hak warga negara untuk berpartisipasi, dan sebagai kewajiban manakala kondisi mengharuskan partisipasi warga negara," ujar Bamsoet dalam keterangannya, Senin (5/9/2022).

Ketua DPR RI ke-20 ini mengatakan konsepsi bela negara tidak boleh dimaknai hanya sebatas upaya menjaga dan melindungi negara dari ancaman militer. Bamsoet menyebut bela negara juga bukan hanya sikap kesiapsiagaan warga negara untuk memanggul senjata saat diperlukan, atau kesanggupan menjadi sumberdaya komponen cadangan negara, sebagai penopang kekuatan militer.

"Ketika ancaman konvensional dapat kita kalkulasi dengan perhitungan matematis, dan kita sikapi dengan strategi militer terukur, maka ancaman non-militer yang bersifat kasat mata, kompleks, dan berdimensi ideologis, justru menghadirkan tantangan yang tidak mudah ditanggulangi. Ancaman berdimensi ideologis tersebut mewujud dalam beragam fenomena, antara lain berkembangnya sikap intoleransi dalam kehidupan masyarakat, tumbuhnya radikalisme dan terorisme, munculnya sikap disintegrasi hingga separatisme, serta beragam bentuk ancaman lainnya yang menggerus sendi-sendi persatuan dan kesatuan bangsa kita," katanya.

Dalam survei nasional yang dilakukan Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat UIN Jakarta pada akhir tahun 2020, tercatat sekitar 30,16 persen mahasiswa Indonesia memiliki sikap toleransi beragama yang rendah atau sangat rendah. Sementara, hasil survei SMRC pada Juni 2022 mengindikasikan tingkat toleransi publik di Indonesia masih rendah, dengan indeks sebesar 49,1 (dalam skala 0-100).

"Selanjutnya, berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Terorisme, hingga tahun 2021 masih ada sekitar 33 juta penduduk Indonesia yang terpapar paham radikalisme. Sedangkan isu separatisme dan aksi kekerasan, khususnya di wilayah Papua, masih menyeruak sepanjang tahun 2022 dan menyebabkan jatuhnya korban masyarakat sipil," paparnya.

Di samping itu, Wakil Ketua Umum FKPPI ini menambahkan saat ini nilai-nilai asing yang merasuk melalui globalisasi mulai menggeser nilai-nilai kearifan lokal dan ke-Indonesiaan. Apalagi Indonesia sebagai negara yang kaya akan sumber daya, memiliki posisi geografis dan geopolitik strategis, serta menjadi pusat daya tarik bagi kepentingan global.

Untuk itu, Bamsoet mengimbau agar seluruh pihak perlu memaknai bela negara secara komprehensif.

"Karenanya, memaknai konsep bela negara secara komprehensif adalah integrasi dari upaya mempertahankan kedaulatan negara dalam segala aspek dan dimensinya. Baik melalui kedaulatan politik, kedaulatan ideologi, kedaulatan pertahanan keamanan, kedaulatan wilayah teritorial, kedaulatan ekonomi, maupun kedaulatan sosial-budaya. Di sinilah urgensi menghadirkan konsep bela negara dalam dimensi ideologis. Diperlukan pembaruan paradigma dan pengembangan strategi bela negara yang sesuai dengan kebutuhan zaman," pungkas Bamsoet.

Sebagai informasi, dalam acara ini turut hadir antara lain Ketua Yayasan Universitas Kristen Indonesia (UKI) Jesua Un, Rektor UKI Dhaniswara K. Harjono, Ketua Senat UKI Admonobudi Soebagio, Pendeta Kampus, Pdt. Merciana Saragih, serta para mahasiswa baru UKI tahun akademik 2022 - 2023.

Src

Load comments